Tindakan Sosial (Social Action)
Tindakan manusia pada dasarnya menunjukan kepada aktivitas-aktivitas manusia, yaitu segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Pada tingkat yang lebih kompleks, tindakan bukan hanya menunjukan kepada segala sesuatu yang dilakukan manusia secara individual, melainkan juga kepada praktik-praktik yang dilakukan sekumpulan aktor (kelompok-kelompok sosial). Max Weber melihat kenyataan sosial sebagai sesuatu yang didasarkan pada tujuan individu dan tidakan-tindakan sosial. Tindakan sosial adalah segala perilaku manusia yang mempunyai makna subjektif. Menurut Max Weber sesuatu dapat berarti tindakan sosial ketika tindakan itu berisi tiga unsur. Pertama, perilaku itu mempunyai makna subjektif. Kedua, perilaku itu mempengaruhi perilakuperilaku pelaku lain. Ketiga, perilaku itu dipengaruhi oleh perilaku pelakupelaku lain. Unsur yang ditekan Weber dalam pengertiannya adalah makna subjektif seorang pelaku. Tindakan sosial tidak semestinya terbatas pada tindakan positif yang dapat diperhatikan secara langsung. Tindakan itu juga meliputi tindakan negative, seperti kegagalan melakukan sesuatu, atau penerimaan suatu situasi secara pasif.
Tindakan sosial memang seharusnya dimengerti dalam hubungannya dalam arti subjektif yang terkandung di dalamnya. Bagi Weber konsep rasionalitas merupakan kunci bagi suatu analisa objektif mengenai artiarti subjektif. Selain itu, ia juga merupakan dasar perbandingan mengenai jenis-jenis tindakan sosial yang berbeda. Rasionalitas dan peraturan yang bisa mengenai logika merupakan suatu kerangka acuan bersama secara luas yang mana aspek-aspek subyektif perilaku dapat dinilai secara obyektif. Tetapi tidak semua perilaku dapat dimengerti sebagai sesuatu maninfestasi rasional. Rasionalitas ini merupakan konsep dasar yang digunakan Weber untuk mengklasifikasikan tipe-tipe tindakan sosial. Perbedaan pokok yang diberikan adalah antara tindakan rasional dan nonrasional. Tindakan rasional berhubungan dengan pertimbangan yang sadar bahwa tindakan itu dinyatakan.
Hasil dari kajian Weber mengenai tindakan sosial dapat dikatakan sebagai data empiris. Tindakan sosial tersebut oleh Weber dibagi menjadi dua. Fokus kajian Weber yang pertama adalah reactive behavior, yaitu reaksi perilaku spontan yang memiliki subjective meaning atau dengan kata lain tindakan yang dilakukan atas dasar spontanitas belaka. Tindakan semacam ini adalah tindakan yang tidak memiliki tujuan atau yang tidak disadari sebelumnya oleh seseorang. Fokus kajian Weber yang kedua adalah sosial action, yaitu muncul dari stimulus atau respon atas perilaku manusia yang menjalankan fungsinya sebagai anggota masyarakat. Secara tidak langsung, tindakan ini lebih bersifat subjektif pada tindakan yang dilakukan aktor dalam lingkungan masyarakat.
Dalam Sosiologi Weber yang dikategorikan sebagai “tindakan” adalah ketika atau sejauh aktor mengenakan suatu makna subjektif kepada perilakunya terbuka atau tertutup, pasif atau aktif. Dan tindakan itu dikategorikan sebagai “sosial” sejauh makna subjektifnya mempertimbangkan perilaku orang lain dan memang diorientasikan dalam rentang tindakan atau perilaku. Tindakan sosial kepada perilaku masa lalu, masa kini atau yang diharapakan dari orang lain.
Dari rumusan-rumusan di atas muncul beberapa dasar metodologis, antara lain makna (meaning) dan intepretasi yang masih perlu dijelaskan jauh. Istilah “makna” (meaning) menjadi konsepsi dasar dan utama usaha memahami tindakan sosial atau tindakan bermakna (meaningfully action). Kata dalam bahasa Jerman untuk meaning adalah sinn yang menujuk kepada fitur-fitur dari kondisi pikiran subjektif atau sistem-sistem simbolik yang terkait dengan pikiran tertentu.
Bagi Weber, tindakan selalu melibatkan pemikiran atau tindakan yang menimbulkan makna, harus didasari pada empat ciri pokok, sebagai berikut;
- Rangkaian kegagalan tindakan selalu berorientasi pada masa lalu, masa sekarang dengan makna pembelajaran kepada orang lain di masa depan.
- Tindakan dikatakan terjadi jika aktor (individu) memberikan makna subjektif pada tindakan mereka. Tindakan ini dapat ditemukan di dalam tindakan ekonomi. Tindakan ini sebagai sebuah tindakan sadar dan utama kearah tindakan ekonomi, karena bukan persoalan imperatif subyek untuk melakukan pertimbangan ekonomi, namun keyakinan ini sangat dibutuhkan.
- Setiap tindakan yang terjadi, sepenuhnya memiliki karakter sosial, tindakan itu memiliki makna apabila berorientasi kepada orang lain. Makna itu berasal dari akibat pengaruh positif atas suatu situasi peristiwa yang terjadi secara berulang-ulang.
- Tindakan sosial itu identik dengan beberapa individu (kelompok). Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain sebagai sebuah resultan dari kesatuan sebuah kelompok. Artinya, tindakan individu sangat dipengaruhi oleh ruang kelompok yang terbatas.[5] Bukan berarti tindakan sosial itu sangat dipengaruhi oleh kelompok, tetapi tindakan aktor individu sebagai tindakan kausalitas terhadap orang lain menjadi tindakan berorientasi nilai. Sementara perilaku mengikuti orang lain merupakan tindakan palsu atau imitasi sebagai tindakan sosial. Disinilah letak transisi yang membedakan kedua tindakan dalam kelompok.
Seseorang dapat melakukan tindakan rasional yang berorientasi tujuan (zweckrational). Tindakan rasional mereka mungkin berorientasi pada nilai rasional (wertrational). Aktor sangat ditentukan, bertindak dari motivasi emosional atau afektif. Dalam tindakan aktor, tertanam habitus dari perilaku mereka yang melibatkan tindakan tradisional. Menurut Weber, tipe tindakan sosial aktor (individu) dibedakan menjadi empat, berdasarkan orientasi tindakan, sebagai berikut:
- Tindakan Instrumental Rasional (Zweckrational): Tindakan instrumental rasional ditentukan berdasarkan harapan terhadap perilaku orang lain atau melibatkan pluralitas sarana sebagai syarat untuk mencapai tujuan. Dengan cara ini tindakan menjadi sangat instrumental.54 Tindakan zweckrational adalah membandingkan tingkat rasionalitas yang ditunjukan oleh individu-individu. Bagaimana seseorang mempertimbangkan cara apa yang digunakan sebagai syarat atau kriteria untuk mencapai satu tujuan ekonomi atau materi. Dicontohkan dengan tindakan seorang insinyur yang sedang membangun jembatan atau seorang jenderal yang ingin meraih kemenangan perang. Dalam kedua kasus ini tindakan zweckrational dibedakan oleh fakta bahwa aktor tersebut memahami tujuannya dengan jelas dan menggabungkan sarana dengan maksud untuk mencapainya.
- Tindakan Value-Rational (Wertratonal) Tindakan itu rasional dikaitkan dengan kesadaran akan nilai tertentu. Tindakan ini terjadi ketika individu menggunakan rasional, yaitu cara mencapai tujuan berbasis nilai etika, estetika, agama atau bentuk perilaku lain yang terlepas dari prospek keberhasilan.
- Tindakan Afektif (especially emotional): Tindakan ini ditentukan oleh kondisi emosi aktor. Tindakan semacam itu adalah antitesis rasionalitas, karena aktor yang bersangkutan tidak dapat tenang, dengan menghilangkan penilaian hubungan antara tujuan akhir dan sarana atau instrumen yang seharusnya digunakan untuk mencapai tujuan ini.
- Tindakan Tradisional: Tindakan tradisional terjadi ketika tujuan dan sarana tindakan ditetapkan oleh adat dan tradisi. Apa yang penting dari tindakan tradisional adalah bahwa tujuan akhir diambil begitu saja dan tampaknya wajar bagi aktor yang bersangkutan karena mereka tidak dapat memahami kemungkinan tujuan alternatif. Ini adalah tindakan yang dipandu oleh adat istiadat dan kepercayaan jangka panjang yang menjadi kebiasaan.
Di dalam bukunya Ritzer yang berjudul Teori Sosiologi disebutkan bahwa meskipun Weber membedakan empat bentuk tindakan yang khas-ideal, Weber menyadari bahwa setiap tindakan tertentu biasanya memuat kombinasi keempat tipe-tipe ideal tindakan. Disamping itu, juga dikatakan bahwa para sosilog juga mempunyai peluang yang jauh lebih baik untuk memahami tindakan dari varietas yang lebih rasonal daripada untuk memahami tindakan yang didominasi oleh perasaan atau tradisi. Tindakan sosial menurut Max Weber yaitu suatu tindakan individu sepanjang tindakannya tersebut memiliki makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain. Suatu tindakan individu yang diarahkan kepada benda mati tidak masuk dalam tipe tindakan sosial, suatu tindakan dapat disebut sebagai tindakan sosial apabila tindakan tersebut benarbenar diarahkan kepada orang lain.
Konsep Tindakan dan Beberapa Aspek Terkait
Seperti telah disinggung di bagian sebelumnya bahwa ketika membahas tindakan sosial, Weber menyinggung berbagai konsep, misalnya masalah motivasi, niat (intent), demikian juga tentang makna perilaku (behaviour). Untuk lebih jelasnya kita perlu menguraikan berbagai konsep tersebut, di antaranya memulai dengan apa itu motivasi. Meminjam suatu kutipan dari Warinner, bahwa Weber menjelaskan motivasi seperti berikut: “Motivation (Zweck) is something separete from the act and can only be understood in a broader situational context, while meaning (Sinn) is something inherent in the act itself, a property of the act rather than a cause or purpose. Therefore, one can understand (i.e., perceive) what a person is doing (in terms of his intention) without knowing why he is doing it”.
Mungkin tidak terlalu salah jika dalam percakapan sehari-hari kita terbiasa menggunakan kata motif dalam arti sebagai dasar penggerak bagi sesuatu tindakan yang dilakukan seseorang. Misalnya motifnya apa sehingga seseorang melakukan sesuatu perbuatan seperti dituduhkan atau dimaksud. Namun dalam konteks penjelasan di atas pemahaman atas motivasi yang sering kali dirujuk dalam percakapan sehari-hari berbeda, karena dalam perbincangan sehari-hari motif dan motivasi sering kali dianggap sama. Tetapi dalam pandangan Weber rupanya keduanya berbeda. Pada definisi di atas kita juga disuguhi konsep makna yang memang dalam pengertian kita berbeda dengan konsep motif dan motivasi. Dari definisi tentang makna di atas, bahwa makna merupakan properti tindakan, maka kita lalu bisa mengatakan bahwa seseorang dapat mengamati atau melihat suatu tindakan yang dilakukan seseorang, namun bisa jadi tidak tahu makna yang terdapat pada tindakan tersebut, karena hanya pelaku tindakan-lah yang paling mengetahui makna tindakan yang dilakukannya. Terlebih apabila tindakan itu hanya dilihat sebagai potonganpotongan peristiwa dalam suatu keseluruhan, sehingga muncul keraguan atau tanya pada diri apakah hal yang sama juga berlaku jika pengamatan itu dilakukan secara intens atau dalam “keseluruhan” peristiwa. Tapi memang sangat mungkin benar, bahwa makna yang menjadi properti tindakan itu sulit dipahami oleh orang lain, terlebih bila tindakan yang dimaksud bersifat sporadik, tidak memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya.
Pada penjelasan di atas disinggung, bahwa makna selain menjadi properti tindakan, ia disebut-sebut bukan penyebab atau tujuan tindakan. Jika makna itu merupakan properti tindakan, dan bukan tujuan maupun penyebab suatu tindakan, maka dalam perspektif Weber tujuan dan sebab tindakan berarti tidak mungkin menjadi penggerak suatu tindakan. Lalu didasarkan pada apa makna yang merupakan properti dari suatu tindakan itu? Dalam konteks ini diskusi elaboratif yang mendasar diperlukan agar “jawaban” atas pertanyaan yang diajukan menjadi jelas, setidaknya tergambar lebih jelas. Sebelum kita menjejakkan pikiran ke pembahasan yang lebih jauh dari berbagai persoalan konseptual yang telah disinggung, ada baiknya kita mengetahui lebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan tindakan (action) oleh Weber persis seperti telah disinggung di atas, yakni sebagai “empunya” makna? Di lihat dari berbagai penjelasan yang dikemukakan, Weber memberi penjelasan atas apa yang dimaksud dengan tindakan. Sebagaimana dikutip oleh Wariner, bahwa: “For Weber, action was behavior that was meaningful, social action was action, i.e., meaningful behaviour that was oriented toward others”. Menurut pendapat Weber, tindakan adalah perilaku yang bermakna, tindakan sosial adalah tindakan, yakni perilaku bermakna yang diarahkan pada orang lain).
Seperti dikemukakan Weber bahwa tindakan adalah perilaku yang bermakna. Pandangan demikian tidak sepenuhnya kita sepakati, karena sepanjang banyak diulas diberbagai buku teks keduanya tidak sama, dan selalu dibedakan. Untuk itu argumentasi ataupun penjelasan yang dimaksud Weber perlu dimengerti agar bisa dipahami dengan baik. Banyak pandangan yang mengemukakan bahwa perilaku itu lebih melukiskan keadaan yang nampak dibagian muka atau luar dari suatu perbuatan atau tindakan, sementara tindakan itu tidak demikian, atau lebih dalam dari sekedar perilaku.
Apalagi tidak semua tindakan menjadi objek kajian raksasa sosiologi itu. Seperti telah dijelaskan oleh Schutz, bahwa Weber mengulas tindakan terutama dalam kaitannya dengan tindakan sosial yang bermakna baik yang memiliki makna subjektif maupun makna objektif, walaupun untuk sampai kepada penjelasan tersebut Schutz terlebih dahulu harus melakukan berbagai “penjernihan” konseptual. Konsep tentang tindakan ini perlu diperjelas terlebih dahulu, karena bagi Weber tugas sosiologi intepretatif sebagaimana dimaksudkannya adalah memahami dan mengintepretasikan tindakan sosial. Sementara tindakan sosial (social action) menurut Weber adalah: “by virtue of the subjective meaning attached to it by the acting individual (or individuals), takes account of the behavior of others, and is thereby oriented in its course….In “action” is included all human behavior when and in so far as the acting individual attaches a subjective meaning to it. Action in this sense may be either overt or purely inward or subjective; it may consist of positive intervention in a situation, or of deliberately refraining from such intervention, or passively acquiescing in the situation”
Begitu luas makna tindakan yang dinyatakan oleh Weber, termasuk yang memberi makna subyektif bagi diri individu. Demikian juga, tindakan baik yang laten (murni dalam batin) maupun manifest terhadap diriya, dll, semuanya masuk dalam kategori klasifikasi tindakan sosial sebagaimana dimaksudkan oleh Weber. Definisi dasar yang dikemukakan Weber nyatanya tidak bisa dengan mulus diterima Schutz, sebagaimana kritiknya: “Action is meaningful for him who acts; this is what distinguishes action from mere behavior. So far, there is no necessary social reference. Every action directed toward an object is ipso facto meaningful. When I dip my pen in the ink or turn on my study lamp, I am acting meaningfully. We can now carry over this initial concept of meaning to the social sphere and apply it to social action, which as we have seen, is action based on the behavior of others”
Atas berbagai pandangan Weber diatas, Schutz membuat catatan yang perlu diperhatikan menyangkut konsep tindakan sosial, terutama soal makna subjektif yang harus didasarkan pada perilaku orang lain. Dalam hal tersebut kita berhadapan dengan berbagai tingkat pemaknaan yang tak terhitung dari setiap keterlibatan sosial yang memungkinkan seorang individu mendapatkan kebermaknaannya. Namun demikian, momen yang dimasukinya dalam hubunganhubungan sosial, yang membawa tindakan-tindakan tersebut pada makna berikutnya. Tindakantindakan itu berfokus pada sesuatu yang lain, yakni sesuatu Engkau. Dalam tahapan seperti ini tindakannya hanya dapat dipahami sebagai persyaratan bagi keberadaan atas Engkau. Sayangnya di dalam pandangan Weber, amat tidak cukup bagi tindakan untuk melakukan kontak dengan orang lain bersama orang lain agar dapat menetapkannya sebagai tindakan sosial (Schutz, 1972). Untuk menegaskan apa yang dimaksud, maka Schutz menunjukkannya pada salah satu paragraf yang dikutipnya dari Weber: “Not every type of contact between human beings has a social character; this is rather confined to cases where the actor’s behavior is meaningfully oriented to that of others. For example, a mere collision of two cyclists maybe compared to a natural event. On the other hand, their attempts to avoid hitting each other, or whatever insult, blows, or friendly discussion might follow the collision, would constitute social “action”
Referensi
Hotman M. Siahan. Sejarah dan Teori Sosiologi.(Jakarta, Erlangga,1989).
I.B Wirawan.Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma.(Jakarta, Kencana Prenadamedia Grup.
Muhammad Mustari & M. Taufik Rahman. Pengantar Metode Penelitian. (Bandung: Laksbang Pressindo, 2011).
Doyle Paul Johnson. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. jilid II. (Jakarta: Gramedia, 1986).
Guenther Roth and Wittich Claus, Economy and Society—An Outline on Intepetative Sociology, (Univesity Of California: California, 1978)
Max Weber, Economy and Society: An Outline Of Intepretative Sosiology, (Berkeley, Los Angles, London: Universitas Of California Pres, 1968).
Schutz, A. 1972. The Phenomenology of Social World, United States of America: Northwestern University Press.
Thomason, C Burke. 1982. Making Sense of Reification. New Jersey: Humanity Press.
Truzzi,Marcello. 1974. Verstehen: Subjective Understanding in The Social Sciences. Phillippines Addison-Wesley Company, Inc.
Weber, Max. 1949. The Methodology of Social Sciences. New York: The Free Press
